Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Sudut-Sudut Cantik Pulau Nami “Welcome in Naminara Republic”

Pulau Nami - Salah satu tempat pariwisata di korea selatan



“Welcome in Naminara Republic”, begitulah kata sambutan saat menjejakkan kaki di Pulau Nami yang terletak di Chuncheon-si, Provinsi Gwangwon-do, Korsel. Dari Seoul, pulau mungil ini bisa ditempuh selama 1,5 jam sampai tiba di Dermaga Gapyeong. Perjalanan lalu disambung dengan kapal feri, menyeberangi Sungai Han selama 10 menit. Kapal ferinya sangat unik, dihiasi bendera-bendera negara di dunia yang berkibar-kibar aneka warna, cocok dengan slogannya, “Di Naminara (Republik Negara Nami), kita semua bersaudara.” Memang mulai dari loket pembelian tiket yang bertuliskan “Imigrasi” hingga sistem pulau ini yang bagai sebuah negara, yang dengan hangat menerima semua budaya dan wisatawan dari seluruh penjuru dunia.


Makam Jendral Nami
Nama Pulau Nami diambil dari Jenderal Nami, pahlawan muda Korea pemberani yang telah menjadi jendral di usia 25 tahun. Makam Jendral Nami terletak di Pulau Nami, lengkap dengan kisah heroiknya. Namun kepopuleran Pulau Nami dimulai sejak drama “Winter Sonata” yang dibintangi Kang Jun-sang (Bae Yong-jun) dan Jung Yu-jin (Choi Ji-woo), menggunakan Pulau Nami sebagai lokasi syuting. Drama ini meledak di berbagai negara asia, terutama Jepang, China, Thailand dan Indonesia.

Walaupun drama ini diproduksi tahun 2002 dan sudah tidak tayang lagi di televisi, namun kepopulerannya mengantarkan Nami menjadi salah satu tujuan wisata di Korea Selatan yang paling ramai, berkat kepiawaian pemerintah Korsel yang menggarap industri pariwisata. Kunjungan turis di Nami dulu hanya berkisar 200.000 per tahun. Sejak demam Winter Sonata hingga kini, kunjungan wisata di Nami melonjak 1,6 juta per tahun, 200.000 orang di antaranya turis mancanegara. Pihak pengelola juga mempertahankan minat turis dengan rajin menyelenggarakan berbagai pergelaran seni di Nami. 

Musim Gugur di Pulau Nami, bagaikan lukisan hidup
Kala musim gugur datang, pulau ini memang sungguh romantis. Daun-daun di pepohonan yang berbaris lurus beralih warna menjadi kuning, coklat, dan merah, benar-benar bagaikan sebuah lukisan. Di berbagai sudut pulau ini dihiasi foto-foto berisi beragam adegan dalam sinetron itu. Bahkan, dipasang juga patung Bae Yong-jun atau Choi Ji-woo, yang menjadi lokasi motret para turis yang narsis.

Di jalan-jalan terdapat air mancur buatan dan deretan pohon-pohon cantik yang ditanam berdasarkan temanya. Ada “Jalan Cemara” yang indah di musim dingin, “Jalan Gingko” yang indah di musim gugur, dan “Jalan Sakura” yang indah di musim semi. Ada juga “Jalan Metasequoia” yang sering dijadikan lokasi foto oleh para turis yang datang. Tidak heran jika banyak pasangan yang sedah jatuh cinta datang kemari.

Satu lokasi terkenal, yaitu jalan panjang berpasir di tepi danau yang dinaungi pohon-pohon birch. Di situlah adegan pasangan Jun-sang mengendarai sepeda sambil memboncengkan Yu-jin, yang merentangkan kedua tangannya sembari memejamkan mata menikmati momen

Salah satu ciri pulau seluas 460-ribu meter persegi dan diameter 5 kilometer ini adalah karya seninya. Mulai dari patung hingga arsitekturnya terbuat dari barang-barang bekas yang didaur-ulang, sesuai dengan moto pulau ini, yaitu “Budaya, Alam, dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup.” Disini juga terdapat beberapa ruang pameran seperti “Anjungan Musik,” “Studio Seni Kerajinan Tangan,” dan “Loka Karya Daur Ulang,” dimana para turis dapat menikmati berbagai pengalaman seperti mendengarkan musik di live café, membuat karya seni dari barang bekas dan sebagainya.



Sudut-sudut cantik Pulau Nami

Walaupun pulau ini sebenarnya dapat ditelusuri dalam dua jam saja, dibutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk menikmati satu per satu keindahan pulau ini dimulai dari pemandangan kabut pagi di permukaan danau hingga cahaya bulan yang cantik di malam hari. Karena itu untuk memaksimalkan pengalaman Namiseom, di pulau ini juga disediakan fasilitas transportasi seperti mobil tur elektrik, sepeda keluarga roda empat, kereta mini, dll. Jadi bila anda berkesempatan mengunjungi Korsel, jangan lupa singgah di pulau nan romantis, Pulau Nami.

sumber : http://ezrasarissiandrespect.blogspot.com/2011/09/pulau-nami-salah-satu-tempat-pariwisata.html

Nami Island

Nami Island adalah salah satu tempat pariwisata indah dan terkenal di Korea . tentu saja aku juga ingin mengunjunginya ^^ .







Pulau Nami terletak di kota Chuncheon-si, Provinsi Gwangwon-do, Korea Selatan. Dengan menumpang bus dari Seoul, pulau mungil ini bisa ditempuh selama 1,5 jam sampai tiba di Dermaga Gapyeong. Perjalanan lalu disambung dengan kapal feri, menyeberangi Sungai Han selama 10 menit. Tempatnya sungguh indah dan memukau...
Tempat ini juga sering menjadi lokasi syuting film, (indah banget sih, cocok banget deh buat adegan romantis)
Jika ke negeri gingseng Korea, jangan lupa berkunjung ke tempat ini ya ^^



sumber :http://hyunnies-indo-is-me.blogspot.com/2010/11/about-my-favourite-all-about-korean.html

Aspek Tradisional menjadi Potensi Wisata yang Menjanjikan


  MARCH 9, 2011
POSTED IN: ON VACATION
Negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa pahlawan dan juga menghargai kekayaan budaya yang dimilikinya. Itulah kalimat yang seringkali kita dengar. Dan kalimat itulah yang diaplikasikan oleh masyarakat Korea Selatan.

Dalam era global saat ini, banyak perusahaan yang mengalihkan atau mungkin mendiversifikasikan bidang usahanya ke bidang pelayanan jasa mulai dari kesehatan sampai pada turisme. Terkait dengan turisme, saat ini semakin banyak negara yang mengelola budaya lokal setempat dan menjadikannya menjadi tontonan yang atraktif bagi para wisatawan. Hal ini pula yang dicoba digarap oleh para pelaku bisnis di Korea Selatan. Terkait dengan artikel terdahulu, disebutkan bahwa Gyeongju mampu mengembangkan pariwisatanya dengan memanfaatkan budaya dan peninggalan Kerajaan Silla.
Sektor pariwisata di Korea memang cukup berkembang. Dengan didukung oleh infrastruktur berupa sarana transportasi, akomodasi dan sarana pendukung lainnya yang sangat memadai serta informasi pariwisata yang lengkap, sektor pariwisata mengalami kemajuan pesat di sana. Jika kita menginjakkan kaki di bandara internasional Incheon maka banyak sekali stand-stand yang menyajikan informasi wisata dan budaya Korea. Bahkan ada perusahaan yang menyediakan jasa wisata transit tour, bagi para pelancong yang hanya punya waktu singkat di Korea karena hanya transit di bandara tersebut. Wisata tersebut berkisar mengelilingi Kota Incheon dan Seoul dengan mengunjungi kuil-kuil di sana serta kampung-kampung tradisional. Hal berbeda saya rasakan ketika menginjakkan kaki di terminal kedatangan internasional di Bandara Soekarno Hatta. Memang ruangannya didesain secara etnik dengan banyak ukiran dayak, dan poster-poster tentang Bali, namun di stand penyedia brosur informasi tentang wisata Indonesia dan Indonesia secara umum selalu terlihat kosong, tidak ada pamflet promosi wisata satupun. Dan beberapa kali saya berada di terminal tersebut, beberapa kali itu pula stand tersebut selalu kosong. Entah mungkin karena banyaknya pelancong yang mengambil brosur atau pamflet tersebut atau karena memang stand tersebut memang tidak pernah diisi. Tentunya informasi terkait banyak hal yang mendukung kunjungan wisatawan akan sangat membantu wisatawan yang ingin berkunjung ke suatu tempat.

Selain itu, setiap kota di Korea juga mempunyai logo dan tagline yang unik sesuai dengan karakteristik kota tersebut. Terkait dengan logo, mungkin hal ini hampir sama dengan yang ada di Indonesia ketika setiap kabupaten, kota dan propinsi memiliki lambangnya masing-masing. Terkait tagline, Kota Seoul misalnya memiliki tagline ”Hi Seoul: Seoul of Asia”, yang menggambarkan bahwa Seoul merupakan tempat yang multikultural dan mampu mencerminkan bagaimana masyarakat Asia itu sebenarnya. Kota Daegu misalnya memiliki tagline ”Colorful Daegu”, yang merepresentasikan Daegu sebagai pusat fashion di Korea Selatan. Sedangkan kota Gyeongju memiliki tagline ”Beautiful Gyeoungju”, yang menggambarkan bahwa kota tersebut memiliki kekayaan budaya warisan kerajaan Silla serta alam yang indah. Korea Selatan sendiri mempunyai tagline ”Sparkling Korea” untuk mempromosikan pariwisatanya (sama seperti Surabaya yang juga mempunyai tagline Sparkling Surabaya). Indonesia sendiri mempunyai tagline wisata ”Indonesia: Ultimate in Diversity”.

One Complete Package: Budaya Korea di Korean Folf Village
Ketiga kota di Korea Selatan tersebut memang mampu melestarikan budaya Korea dan mengelolanya menjadi objek wisata yang menarik. Salah satu objek wisata lain yang menarik adalah Korean Folk Village. Desa adat tersebut terletak di KotaYongin yang merupakan kota satelit dari Seoul. Kota Yongin terletak di Propinsi Gyeonggi. Tujuan dibangunnya desa adat ini adalah memang untuk melestarikan budaya Korea selain tentunya juga untuk tujuan komersil. Untuk masuk ke objek wisata ini, pengunjung harus membeli tiket paling mahal seharga sekitar seratus ribu rupiah untuk orang dewasa. Dengan tiket itu pengunjung dapat memasuki setiap objek wisata yang ada di dalamnya. Di Korean Folk Village terdapat beranekaragam rumah adat dari berbagai daerah di Korea Selatan, yang jumlahnya mencapai sekitar 260 rumah adat. Kalau di Indonesia mungkin semacam Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang ada di Jakarta Timur. Selain bisa mengunjungi rumah-rumah tradisional, para pengunjung juga bisa merasakan pengalaman kehidupan tradisional masyarakat Korea dengan ikut serta dalam berbagai workshop seperti Korean paper workshopfarming experiencetraditional living experience,folklore life experience dan masih banyak lagi.

Di desa adat seluas 243 hektar ini, juga terdapat berbagai museum seperti Korean Folk MuseumWorld Folk MuseumEarthenware Life HallExhibition Hall dan sebagainya. Karena tempatnya yang dipenuhi banyak bangunan tradisional, areal desa adat ini seringkali dibuat sebagai latar belakang syuting beberapa film kolosal Korea. Salah satunya adalah drama yang berjudul ”Jewel in the Palace” yang juga sempat ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Saat saya mengunjungi desa adat tersebut, saya juga sempat melihat proses syuting drama Korea di sana. Di sana juga terdapatamusement park dengan berbagai wahan permainan yang menarik untuk dicoba.
Para pengunjung juga bisa menikmati berbagai pertunjukan menarik seperti the Art of Hwarang (sama seperti yang ada di Silla Millenium Park), Salmunori performanceacrobatics on tight rope serta upacara adat pernikahan Korea. Bagi saya Salmunori performance adalah yang paling menarik. Dalam pertunjukan itu beberapa pemain Salmunori menampilkan permainan musik yang dinamis. Pemainnya menggunakan kostum yang berwarna-warni, berwarna merah, putih, biru dan kuning yang merupakan warna nasional Korea Selatan. Selain bermain musik, mereka juga memainkan adegan akrobatik berupa salto yang cukup energik. Ketegangan pengunjung akan lebih terlihat ketika menyaksikan acrobatics on tight rope. Dalam pertunjukan ini seorang kakek melakukan atraksi akrobatik di atas satu tali yang membentang di udara. Kakek tersebut sambil membawa kipas di salah satu tangannya secara lincah memainkan banyak atraksi mendebarkan dari ujung tali satu ke ujung tali yang lain. Setiap selesai melakukan satu atraksi, maka kakek tersebut berbicara dalam bahasa Korea yang membuat orang terpingkal-pingkal. Semacam dagelan mungkin dalam Bahasa Jawanya. Yang jelas saya hanya ikut-ikutan tertawa ketika pengunjung lain yang asli Korea juga tertawa. Di bagian lain desa adat itu, pengunjung dapat menaiki kuda mengelilingi sebagian areal desa adat dengan hanya membayar sekitar 2.000 won atau 16 ribu rupiah. Selain itu pengunjung juga dapat mencoba pakaian adat Korea Selatan yang disebut hanbok serta mengambil foto tanpa dipungut biaya. Saya sudah mencoba keduanya baik menunggangi kuda maupun mencoba baju adat tersebut. Benar-benar pengalaman yang menarik, begitu pikir saya.
Korea Selatan memang telah membuktikan bahwa budaya lokal bukanlah aspek yang kuno dan layak ditinggalkan. Sebaliknya budaya tersebut bisa menjadi aset bangsa yang berharga. Di Indonesia sendiri pemanfaatan budaya lokal sebagai komoditas pariwisata sudah lama dilakukan. Namun mungkin yang paling menonjol adalah pariwisata di Yogyakarta dan Bali. Bahkan kecenderungan yang ada dan berkembang di masyakarat termasuk kalangan muda adalah budaya lokal saat ini dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan bukan zamannya. lagi Tentu menjadi suatu berita yang menggembirakan jika nantinya di Indonesia, budaya mampu memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan bangsa. Saya percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman budaya yang beragam, yang tentunya jika dimanfaatkan dengan baik akan memberikan manfaat yang besar pula bagi Indonesia.

sumber:http://muchdlirzauhariy.com/wordpress/?p=294

Gyeongju, Kota Kerajaan Silla Terbesar di Korea Selatan



Gyeongju adalah ibu kota kerajaan kuno Silla (57 SM – 935 M), kota di pesisir pantai Laut Jepang yang terletak di sudut tenggara Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan.

Kerajaan Silla muncul pada akhir milenium ke-1, dan menguasai hampir seluruh Semenanjung Korea dari abad ke-7 hingga 9. 

Banyaknya tempat bersejarah di Gyeongju menjadikan kota ini sebagai salah satu tempat terpopuler bagi tujuan wisata di Korea Selatan.
Gyeongju sering disebut sebagai "the museum without walls" (museum tanpa dinding) karena banyaknya situs-situs peninggalan jaman Silla yang tersebar dipelosok kota.  


Sejumlah besar situs arkeologi dari periode ini hingga kini masih dapat ditemukan di Gyeongju dan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO seperti: Seokguram grotto, kuil Bulguksa,  Kota bersejarah Gyeongju dan Yangdong.
Kebanyakan situs peninggalan Silla berlokasi di Taman Nasional Gyeongju seperti Kompleks Makam Kerajaan, observatorium Cheomseongdae yang merupakan peninggalan observatorium astronomi tertua diAsia Timur, kolam kerajaan Anapji, dan hutan Gyerim. Museum Nasional Gyeongju menyimpan berbagai artifak penting serta benda - benda bersejarah dari lokasi sekitar daerah Gyeongju.

Sejak tahun 1962,  setiap tahun  diadakan Festival Budaya Silla  yang berlangsung setiap bulan Oktober untuk merayakan dan menghormati kebudayaan serta sejarah dinasti ini. 

Festival ini termasuk dalam salah satu festival terbesar di Korea. Acara festival ini termasuk lomba atletik, permainan tradisional, musik, tarian, sastra dan upacara keagamaan Buddha. 





sumber : www.kagakribet.com/travel.php/yf29wr44ng55/Gyeongju-Kota-Kerajaan-Silla-Terbesar-Korea-Selatan/

Berendam Air Panas di Seoul





Pilihan Liburan Akhir Tahun
Jepang dan Korea Selatan menjadi pilihan liburan akhir tahun.
Musim dingin di Jepang dan Korea Selatan sangat indah dan romantis serta dapat menikmati bermain salju.

Berendam Air Panas
Korea Selatan menawarkan berbagai ragam keindahan mulai dari berendam di air panas, koleksi sky resort dan festival salju. Kolam Bade menyediakan terapi dan mandi spa dengan bahan alami dan organik. Asan Spavis, taman bermain air yang menekankan unsur kesehatan, dengan menggunakan air yang menekankan unsur kesehatan,bersuhu 38 derajat celsius,dipompa dari kedalaman 700 metemeter. Menghangatkan diri sekaligus mengambil manfaat bagi kesehatan tubuh ,akan menjadikan tubuh segar dan rasa stress hilang.


(Selected Reading: Kompas 2 November 2010, Hal 4 Info Wisata)
sumber : http://olahragasenibudaya.blogspot.com/2010/11/wisata-dari-seoul-korea-selatan-tokyo.html

Moses Miracle



Ini adalah penomena alam yang paling mengagumkam di Korea Selatan yang dinamai “Moses Miracle,” di mana laut terbelah menjadi dua dan hal ini terjadi dua kali setahun terjadi air surut, terbuka suatu alur daratan sepanjang 2.8 kilometer dan lebar 40 meter yang menghubungkan pulau Jindo dan Modo selama beberapa jam. Bagi teman-teman yang ingin menyaksikan langsung mungkin bisa pergi ke sana. ^^


sumber :http://alniachairunisa.wordpress.com/page/2/

Kamis, 01 Desember 2011

Asyiknya Wisata Pasar Tradisional di Korsel



Apa yang menjadi tempat favorit yang paling Anda idamkan saat berkunjung ke luar negeri? Korea Selatan menawarkan pasar tradisional sebagai salah satu tempat alternatif untuk di kunjungi para wisatawan. Tak pernah terbayangkan bagi kita, pasar tradisional digarap oleh pemerintah sebagai salah satu tempat favorit untuk dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Tak tanggung-tanggung, pemerintah Korea mengeluarkan dana yang besar untuk membenahi pasar tradisionalnya, serentak di seluruh Korea Selatan. 

Lewat sebuah lembaga bernama Agency of Traditional Market Administrations (ATMA), pemerintah Korea Selatan (www.sijang.or.kr) berupaya melaksanakan pengelolaan tingkat tinggi (advanced management) sehingga pasar tradisional di seluruh Korea Selatan mampu bersaing dengan pasar modern dan menjadi objek wisata yang menarik untuk dikunjungi.



Pada tanggal 27 Juli 2011, saya beserta sembilan orang wisatawan asing lainnya (AS, Iran, Cina, Kamboja, Prancis, Uzbekistan, Ukraina, Inggris, dan Vietnam) diundang oleh ATMA untuk merasakan tur yang berbeda dan hanya ada di Korsel, yaitu “Traditional Market Tour” di Pasar Gwangjang Jongno-5ga Seoul. 

Kami disambut oleh Direktur ATMA dan dipandu oleh guide berbahasa Inggris. Kami mendapat penjelasan tentang kekhasan dari pasar tradisional Gwangjang Seoul. Mulai dari barang-barang khas Korea yang bisa dibeli, makanan tradisional Korea, dan lain lain.

Pasar tradisional Gwajang ini juga menjadi lokasi yang tepat untuk berwisata kuliner, dikarenakan banyak sekali makanan khas Korea yang dijual di sini. Semisal Bibimbap (sejenis nasi campur sayuran), Kimbap (nasi dan sayuran dibungkus dengan rumput laut), Topokki (sejenis kue beras dilumuri saos gocujang), kuksu (sejenis mie dan dimsum khas korea), Bindaetteok (pizza dari kacang kedelai khas korea) dan lain sebagainya. Penjualnya pun telah lebih dari 10 (sepuluh) tahun menjual makanan ini.



Di akhir kegiatan tur, kami berkesempatan merasakan secara langsung membuat kimbap dan Bindaetteok bersama dengan ibu penjual makanan di pasar tradisional itu. Harga makanan khas Korea di pasar tradisional ini relatif murah dan terjangkau, mulai 1.000 won sd  4.000 won. Rasanya pun terasa enak dan lezat. Dengan kurs satu won Rp. 8 rupiah, rasa yang begitu nikmat dan lezat bisa didapat dengan harga yang sungguh murah. 

Saat kegiatan berlangsung, Seoul sedang dilanda banjir dikarenakan hujan lebat berhari-hari. Tetapi, pasar tradisional Gwangjang tetap begitu nyaman dikunjungi dalam kondisi hujan sekali pun. Ini dikarenakan penataan pasar tradisional yang cantik dan nyaman untuk dikunjungi. Jika anda berkunjung ke Seoul, cobalah wisata pasar tradisional sebagaimana yang saya alami ini. Sungguh pengalaman yang tiada terlupa dan penuh kesan.



sumber :Ai Melani
Mahasiswa PhD Korea Advanced Institute of Science and Technology

Sinchon Fashion Street





Jalan-jalan Shinchon, terletak antara tiga dari universitas paling bergengsi di Korea (Yonsei, Ewha Perempuan, Dan Sogang), selalu tampak penuh dengan anak muda senang dan riang.Pada siang hari, Shinchon penuh dengan siswa bergegas ke kelas, menghabiskan waktu dengan teman-teman di warung kopi antara kelas, atau belanja. Pada malam hari, mereka mengisi jalan-jalan, pergi antara berbagai restoran, bar, kafe rock, dan klub malam yang garis gang. Sejumlah bar bergaya Barat dan restoran baru-baru ini dibuka untuk memenuhi jumlah besar mahasiswa asing yang telah mulai datang ke Korea, terutama selama bulan-bulan musim panas.


sumber :http://rerelfishyesung.wordpress.com/2010/12/16/tempat-yang-wajib-dikunjung-di-korea/

Seoul Worldcup Stadium



Seoul Stadion Piala Dunia, juga dikenal sebagai Stadion Sangam, terletak di Seongsan, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan dan telah pulang dari klub K-Liga FC Seoul sejak tahun 2004. Stadion ini dibuka pada tahun 2001. Ini memiliki kapasitas 68.476 (66.806 untuk Reguler; 916 untuk VIP, 754 untuk Media) [1] dibangun untuk Piala Dunia 2002.


sumber :http://rerelfishyesung.wordpress.com/2010/12/16/tempat-yang-wajib-dikunjung-di-korea/

Desa Tradisional Namsan



Namsangol Hanok Village, juga dikenal sebagai “Sebuah Desa Rumah Tradisional di Lembah Namsan”, adalah sebuah desa Korea terletak di daerah lingkungan Pil-dong di Jung-gu, distrik pusat kota Seoul, Korea Selatan di mana hanok (Hanok) atau rumah-rumah tradisional Korea yang telah dipugar untuk menjaga suasana asli daerah. [1]
The Namsangol Hanok Village menawarkan satu kesempatan untuk mengalami sebuah salib lebar bagian rakyat Joseon era dan kegiatan, dari royalti kepada rakyat jelata. Sebuah usaha besar telah dilakukan untuk secara akurat memberikan masing-masing dengan era tinggal janji yang tepat dan status sosial. [2]
Gaya taman tradisional Korea, lengkap dengan sungai yang mengalir dan paviliun dibangun di situs dalam rangka untuk menghidupkan kembali merasakan klasik era-Joseon. Lima rumah tradisional, termasuk beberapa tempat tinggal para pejabat tinggi – beberapa rumah mewah terbesar di Seoul pada waktu itu, bersama dengan rumah-rumah rakyat biasa dipindahkan ke 7.934 meter persegi / 9.489 sq Yar dasar yang berisi desa dipulihkan.

Museum Kimchi


Di Korea, kata Hwang Moo, kimchi sebagai salah satu masakan tradisional kebanggaan Korea. Warga Korea mengenal kimchi dengan sebutan “banchan“. Kuliner yang kaya bumbu ini disajikan berbarengan dengan nasi putih dan lauk utama. Fungsinya tergolong unik, yakni sebagai “teman masakan utama”. Sebab Kimchi bisa menetralisir rasa makanan utama yang dominan atau justru memperkaya rasa menu utama yang tawar.
Saat ini, kata Hwang Moo, kimchi merupakan menu harian penduduk Korea. Makanan itu melengkapi cita rasa sajian utama Korea, seperti bibimbap dan bulgogi. Kimchi telah menjadi bagian budaya kuliner yang dinikmati oleh seluruh masyarakat Korea.
“Kimchi adalah makanan sehari-hari yang disajikan di rumah, jadi anak muda Korea juga menikmati Kimchi sebagai makanan sehari- hari,” kata Hwang Moo.
Masyarakat Korea menikmati kimchi dalam beberapa jenis antara lain tongbaechu kimchi (kimchi kol putih), chonggak kimchi (kimchi lobak putih), kimchi daun wijen, dongchimi (kimchi buah bit), kimchi bawang, oisobagi kimchi (kimchi mentimun), dan nabak kimchi (kimchi kol dan buah bit).

Jalan-jalan di Changdeokgung pada musim gugur

Untuk sebuah kota super modern, Seoul ternyata memiliki banyak tempat bersejarah dan tradisional yang terawat baik serta menarik untuk dikunjungi. 

Bagi yang baru pertama kali main ke Seoul, mengunjungi istana ini adalah hal yang wajib selain juga mencoba pasar nyaris 24 jam, Dongdaemun. Walau memiliki beberapa kesamaan, banyak hal asyik yang bisa dinikmati selama berkeliling istana ini.

Changdeokgung








Istana ini merupakan salah satu istana termegah yang dibangun oleh para raja dari dinasti Joseon. Changdeokgung terletak di Jongno, daerah pusat turis. 

Saat penjajahan Jepang, istana ini hancur sampai yang tersisa hanya tiga puluh persennya. Namun, setelah mengalami beberapa kali restorasi, Changdeokgung masih terlihat sebagai salah satu istana terindah. 


Salah satu bagian tercantik dari istana ini adalah Huwon, taman belakang dengan kolam yang di tengahnya terdapat taman tambahan buatan manusia. Di pinggir kolam terdapat paviliun kecil yang kabarnya sering digunakan para putri saat mereka ingin menikmati waktu santai. 


Di sekeliling kolam, terlihat berbagai pohon yang akan berubah warna sesuai musimnya. Kebetulan, saya ke sana pada musim gugur, sehingga dedauan berwarna kemerahan memenuhi hamparan taman sementara pohon-pohon terlihat mulai mengering.






Mengelilingi istana ini juga perlu stamina kuat karena lokasinya yang agak berbukit. Taman-taman indah ini terletak di bagian belakang dan agak menurun. Sehingga untuk melihat bagian depan istana, termasuk ruang utama dan ruang lainnya, harus sedikit olah raga. 






Seperti juga di istana lain, pada jam-jam tertentu, di depan istana akan dilakukan prosesi pertukaran pengawal. Selain taman yang indah, prosesi ini termasuk salah satu hal yang ditunggu-tunggu para turis.

sumber :http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/245-kutu-loncat-keliling-istana-seoul

Gyeongbokgung


Istana ini merupakan yang terbesar di tengah kota Seoul sekaligus merupakan istana tertua peninggalan dinasti Joseon. Di bagian depan istana terdapat halaman luas yang juga menjadi lokasi pemotretan yang keren, Gwanghwamun. Untuk masuk ke istana ini, kita harus membayar 1000 won.



Cara termudah untuk mencapai istana menggunakan kereta bawah tanah jalur tiga atau oranye dan keluar di pintu keluar nomer 5.

Di dalam kompleks istana ini ada dua gedung utama, paviliun Gyeonghoeru dan aula Geunjeongjeon. Yang terakhir ini adalah aula tempat  raja mengumpulkan para bawahannya untuk suatu pertemuan penting, sekaligus tempat penahbisan raja baru. 




Pavilliun Gyeonghoeru menjadi tempat yang paling sering dikunjungi turis karena dikelilingi oleh kolam teratai. Taman di sekelilingnya menawarkan arsitektur taman yang megah.

Seperti juga Chadeokgung, pada jam-jam tertentu berlangsung prosesi pertukaran penjaga istana. Karena istana ini lebih besar, skala prosesi pertukaran ini pun lebih besar dan meriah. 



Yang menarik adalah rombongan penjaga istana ini juga mengelilingi istana sehingga kita tidak perlu mencegat di bagian depan istana.

Berdekatan dengan istana Gyeongbokgung, terdapat Museum National Tradisional Rakyat Korea yang menyimpan sekitar 4000 benda yang mewakili gaya hidup tradisional Korea. 



sumber :http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/245-kutu-loncat-keliling-istana-seoul

Deoksugung


Istana ini bisa dibilang yang paling baru dibanding istana-istana lainnya. Awalnya, istana ini merupakan tempat tinggal pangeran Wolsan, kakak raja Seongjong, tetapi kemudian dijadikan istana utama bagi raja-raja sesudahnya sampai akhirnya penjajahan Jepang. 




Nama Deoksugung berarti istana kebajikan abadi. Nama ini diberikan oleh anak raja Kojong yang merupakan raja terakhir dari dinasti Joseon.


Dibanding dua istana sebelumnya, terus terang istana ini tidak megah dan tidak terlalu banyak hal yang menarik untuk dinikmati. Aula rajanya pun terlihat lebih kecil. Yang menarik adalah masih terdapatnya lonceng besar di sisi kiri istana. Halaman tengahnya juga masih sering digunakan untuk konser musik tradisional korea, seperti pansori. 


Di belakang istana Deoksugung ini juga terdapat Museum Seni dengan bangunan arsitek bergaya Eropa. Taman dan jalan setapak menuju museum ini memang manis. Buat yang mencari lokasi tenang untuk berpacaran, istana ini bisa dibilang jadi lokasi paling tepat. Romantis sekali. 





sumber :http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/245-kutu-loncat-keliling-istana-seoul

Rabu, 16 November 2011

Sungnyemun

Namdaemun atau Sungnyemun adalah sebuah gerbang bersejarah yang berlokasi di jantung kota Seoul, ibukota Korea Selatan. Bangunan ini disebut juga dengan nama Sungnyemun, yang berarti Gerbang Upacara Agung, yang tertulis pada papan gerbang.[1] Penyebutan Namdaemun secara luas digunakan karena letaknya yang berada di bagian selatan dari gerbang-gerbang yang melindungi Hanyang (nama Seoul pada waktu itu). Namdaemun berarti "Gerbang Besar Selatan".

Pada malam hari tanggal 10 Februari 2008, atap gerbang kayu ini terbakar oleh api yang sepanjang malam melalap seluruh bagian atap dan struktur kayunya.


sumber : http://kimjoonofmax-koreanlovers.blogspot.com/2011/01/tempat-tempat-obyek-wisata-di-korea.html?zx=79c72062d7c3b75c

Katedral Myeongdong



Katedral Myeongdong adalah katedral umat Katolik Roma pertama yang didirikan di Korea Selatan di Seoul. Katedral ini didirikan pada masa pemerintahan konfusius Dinasti Joseon oleh pendeta Katolik asal Perancis, Eugene Coste. Tanah dari katedral ini dibeli pada tahun 1883 dan Kaisar Gojong mengadakan upacara peletakan batu pertama pada tahun 1892. Pembukaan katedral ini ditunda sampai bulan Mei 1898 karena terjadinya Perang Pertama Sino-Jepang serta karena kematian dari ayah Coste. Nama awalnya adalah Katedral Jonghyeon 종현성당 (鐘峴聖堂) namun diganti pada tahun 1945 untuk memperingati kemerdekaan Korea dari Jepang menjadi Katedral Myeongdong.







sumber : http://kimjoonofmax-koreanlovers.blogspot.com/2011/01/tempat-tempat-obyek-wisata-di-korea.html?zx=79c72062d7c3b75c

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites